Bertapa 5

Suara jangkrik memenuhi udara gelap nan dingin malam ini. Juga keributan suara mesin diesel tetangga sebelah. Sekali dua kali terdengar motor di jalan sana berlalu lalang serta suara sendal yang berjalan menggesek pasir di atas jalan raya. Lampu led sayup2 menyala. Sepi sunyi. 

Kesunyian ini juga yang mengantarkanku kepada salah satu buah pikiran filosof kontemporer, aku lupa namanya. Filosof itu mengatakan bahwa hidup itu adalah mimpi. Aku awalnya tak pernah habis pikir. Bagaimana kehidupan nyata bisa dikatakan sebagai mimpi? Perenungan2 dan pencarian jawaban dalam kegelapan fikiran akhirnya muncul suatu titik terang. Aku membenarkan perkataan filosof itu. Aku mengangguk2 ketika menemukan jawabannya dalam lintasan pikiran2 liarku. 

Kesunyian seperti inilah yang kemudian menghadirkan kehidupan nyata yang telah terjadi di masa lalu berseliweran di dalam angan2. Nyaris persis seperti mimpi. Kenangan2 semasa kecil, masa2 sekolah, masa2 kuliah, dan yang paling menyita adalah kisah percintaan yang telah lalu. 
Aku tak pernah membayangkan dan memikirkan sebelum2nya bahwa jalan hidupku akan seperti ini. Lahir di keluarga biasa. Sekolah di desa, melanjutkan ke Baubau hingga kuliah ke Semarang, doa2 yang sejak SMP mulai aku pintakan kepada Tuhan. Bertemu teman2 yang hari ini mereka menjalani takdir masing2. Ada yang telah menghadap Ilahi dan ada yang masih bergelut dengan kerasnya hidup. Aku tak pernah membayangkan pernah bersekolah di SMKN 1 Baubau dan bertemu bercengkerama dengan teman2 di sana. Lalu sebulan kemudian harus berpisah karena kepindahanku ke tempat lainnya. Bukankah ia seperti mimpi? 

Aku tak pernah mengira akan melanjutkan sekolah ke negeri yang bahkan tak pernah aku mimpi2kan, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat selama setahun lebih. Bertemu dengan teman2 baru yang sangat friendly. Bercengkerama dengan mereka dan menyukai beberapa gadis sumbawa. Bahasa dan adat yang jauh berbeda dariku. Lalu semuanya hilang lagi setelah aku pindah sekolah. Bukankah ia serasa seperti mimpi saat ini? 

Lalu aku bersekolah di Baubau dan menemukan kawan baru lagi. Setelah lulus aku bahkan masih merasa seperti mimpi walaupun beberapa kawanku itu masih sering berhubungan sampai sekarang. Lalu aku kuliah di jurusan tarbiyah. Bercengkerama dengan teman2 tarbiyah. Sekarang kenangan nyata itu nyaris seperti mimpi. Lalu aku melanjutkan S1 di jurusan Sejarah dan bertemu kawan2 baru lagi. Yang lebih muda yang lebih fresh. Banyak kenangan terlewati dan semua aku rasakan seperti mimpi belaka!

Kisah percintaan dengan pujaan hati yang hampir membuat aku gila itu juga nyaris seperti mimpi namun dampaknya masih terasa sampai saat ini. Ia laksana mimpi buruk yang sulit untuk dilupakan. Bercengkerama dengan wanita yang aduhai saat ini pun aku rasa juga bagian dari mimpi2ku. Lalu banyak nama yang nyaris sama yang aku jumpai dalam setiap langkah interval umur yang aku lalui. Nama2 yang persis sama hanya orang dan daerah juga waktu yang berbeda. Ah semua ini adalah kenyataan yang jadi mimpi. Ia hanya muncul dalam angan2 seperti sebersit cahaya yang menggaris di langit gelap lalu hilang ditelan kegelapan. 

Ah sudahlah! Aku akan menikmati mimpi2 itu malam ini. Utamanya mimpi2 saat kemesraanku dengannya malam itu di bawah hujan lebat. 
Sahu, 29 Juni 2017 20.19

Bertapa 3

Sepanjang hari ini cuaca sangat bagus sekali. Sejak pagi hingga sore matahari terus menyemburatkan sinarnya walau sebentar-sebentar dihalangi oleh awan tipis. Aku kira akan hujan lagi seperti biasanya. Lumayan, pakaianku yang sejak kemaren belum kering akhirnya kering juga. Panel surya terisi penuh hari ini. Hasilnya malam ini lampu led terang benderang. Ayahku juga bisa mengisi penuh bak mandi dengan bantuan panel surya menggerakkan mesin air. Tabku akhirnya bisa terisi penuh dan dpt menulis tulisan ini. 

Kali ini aku hanya ingin bercerita tentang ibuku. Wanita paling strong yang pernah aku temui. Sejak kecil aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana ibuku sangat rajin dan telaten mengerjakan semua pekerjaan rumah. Beliau adalah orang yang Tidak akan berhenti selama pekerjaan rumah belum kelar. Untuk urusan rumah, beliau tak pernah membiarkan lantai berpasir sedikitpun. Paling tidak pagi dan sore harus bersih, disapu. Beliau sering bilang bahwa tidak merasa nyaman kalau2 menginjak satu butir saja pasir di lantai rumah. Lihat juga dinding rumahku ini kawan! Penuh dengan foto2, bahkan foto wisudaku telah terpampang dengan gagahnya di ruang tamu rumah kami. Lihat juga sudut2 rumah kami ini, ada bunga2 yg terawat walaupun hanya bunga plastik. Ibuku juga tak bisa betah berlama2 melihat halaman yang kotor. 

Piring2 kotor lekas dicuci sehabis makan pagi, siang atau malam. Panci2 kotor hitam penuh kotoran asap akibat tungku kayu bakar digosoknya hingga seperti baru. Sebagian pekerjaan dapur itu telah aku ambil alih ketika aku di rumah. Kecuali urusan masak-memasak aku tak berani mengambil alih sebab aku tak terlalu mahir dalam urusan ini. 

Adikku, Ani, yang sekarang banyak membantu ibuku dalam urisan dapur. Ibuku adalah seorang pekerja keras. Dulu, ketika tulang masih perkasa, otot masih kuat dan berjiwa muda, ayah dan ibuku sangat rajin ke kebun. Membabat rumput dan menanam tanaman macam2. Aku sangat merindukan masa2 ketika liburan hari minggu keluarga kami di kebun hingga gelap menyapa. Almarhumah nenekku, yang sekarang telah berbaring di tanah tempat beliau mengadu nasib inilah dulu kami sekeluarga menghabiskan sehari di kebun. Jangan tanya apa yang kami lakukan waktu itu. Kami masih seumuran SD. Kami hanya bermain, melakukan permainan2 atau hanya sekedar duduk2 sambil melihat ayah ibu dan nenekku sedang membersihkan rumput2 pendek di kebun. 

Aku banyak belajar dan terinspirasi dari ibuku. Tentang kerja keras, optimisme, dan pantang menyerah. Ia mengajarkan segalanya kepadaku. Bahwa hidup adalah perjuangan yang pantas diperjuangkan. 

Ibuku sering bercerita tentang masa mudanya yang lebih sulit dari zaman2 sekarang. Dahulu, bahkan ayah ibuku harus berjalan kaki jika mereka punya urusan di kampung sebelah yang berjarak sekitar kurang lebih 4 km. Dahulu sebelum aku lahir, keluargaku sering tidur di kebun bersama kakak2ku yang telah lahir pada waktu itu. Tanpa peduli banyaknya gangguan makhluk halus setiap larut malam tiba. Oh iya,,, dahulu, jin2 atau hantu2 sangat jahat dan sadis mengganggu manusia. Setan yang ganas. Bahkan sampai2 mampu membunuh manusia. Berubah menjadi manusia dan hidup bersama manusia. Banyak kisah2 yang seringkali ayah ibuku tuturkan tentang kisah manusia tinggal bersama jin atau hantu yang itu dikiranya adalah istri atau suaminya sendiri. Kadang2 hantu berubah menjadi istri dari suami yang manusia atau sebaliknya. 

Yang aku paling suka dari ibu adalah aku suka curhat sama beliau. Sebab ibuku tidak seperti ayahku yang tidak terlalu banyak cakap alias ngomong. Ibuku lebih vokal daripada ayahku.  Ibuku juga adalah seorang yang sangat berani dan vokal ketika ada masalah. Tidak seperti aku yang melempem ketika menghadapi masalah. Ibuku lebih suka berhadapan langsung dengan orang yang konflik dengannya dan berargumentasi panjang kali lebar. Aku bahkan heran dan bertanya tanya kok bisa ya? Kenapa sifat itu tidak turun padaku ya. Sepertinya aku akan banyak menghadapi masalah dengan lebih cepat tanggap dan argimentatif menghadapi musuh2 konflik. 

Hari ini, ibuku tak sekuat dahulu. Ibuku beranjak tua, dan kesedihan terbesarku adalah melihat semakin tua ayah dan ibuku dan aku masih belum bisa berbuat apa2 buat mereka. Hanya doa yang selalu diajarkan oleh Nabi untuk waktu sekarang ini yang aku haturkan sebakda solat setiap saat. Aku cuma berharap semoga mereka semakin taat beribadah dan hidup bahagia dan keberkahan semoga tetap atas keluarga kami. Amiin
Sahu, 23 Juni 2016 21.36

Bertapa 4

​”Cengkeh tak berbuah nak! Tak ada hasil tahun ini” jawab ibuku suatu waktu via telpon.

****

Keluarga kami dan sebagian besar warga di daerah kami menggantungkan hidup pada kebun cengkeh yang hanya sekali setahun berbuah. Harapan yang sangat kami gantungkan. Sebab dari situlah biaya sehari2 dan biaya sekolah anak2 diambilkan. Tak ada pegangan lain sekiranya suatu ketika cengkeh tak berbuah. Seperti tahun ini. Terlalu berharap terhadap sesuatu yang masih mumkin–akan ada atau tidak adanya. Dan tahun ini benar adanya. Cengkeh tak berbuah. Tak ada hasil. Tak ada uang dan otomatis tak ada biaya sekolahku ke Jawa. Dan jalan paling aman bagi kedua orangtuaku adalah menambah pundi2 hutangnya kepada kakak pertamaku melalui istrinya. 

Beginilah keadaannya. Takdir tak perlu disesali apalagi ditangisi. Hanya perlu ia dijalani dengan kekuatan dan ketabahan. Begitulah kedua orangtuaku menjalani selama puluhan tahun membangun keluarga kami hingga kami terlahir di era ketika himpitan kehidupan tak begitu keras. Proses melawan takdir dengan doa dan ikhtiar yang terus menerus dijalani oleh ayah dan ibuku meski tak pernah mereka dongengkan pada kami yang tak tahu apa2. Tapi dari raut wajahnya telah jelas terpampang penderitaan bertahun2 itu. Dan yang memilukan adalah kami anak2 generasi terakhir tak bisa berbuat apa2 selain menghabiskan uang untuk biaya sekolah yang mereka usahakan mati2an. 

Kami keluarga petani. Tak memiliki penghasilan kecuali pertanian yang hasilnya sulit diprediksi. Hasilnya pun setahun sekali. Lumayan jika hasil panen melimpah. Tapi itu tak cukup menutupi kebutuhan selama setahun. Hutang tetap ada. Menganga! Dan lebih menganga lagi ketika tak ada hasil tahun ini. Persis seperti lagu bang Haji Roma Irama, “Gali lubang tutup lubang. Pinjam uang bayar hutang”. Ia semacam siklus yang terus menerus berputar membentuk lingkaran setan! Kalau ada hasil panen, maka siap2 saja ia habis hanya untuk menutupi hutang tahun kemaren. 

****

Lebaran sudah pergi! Hari2 kembali normal seperti biasanya. Tak ada apa2. Tak ada pekerjaan apa2. Hari2ku disibukkan oleh buku2 yang aku bawa jauh2 dari Semarang. Buku2 setebal 400an sampai 500an halaman itu cepat sekali aku khatamkan. Hanya dalam beberapa hari. Itulah pekerjaan paling beratku di rumah selain menyapu lantai dan halaman. Cuci piring telah aku pasrahkan kepada adik bungsuku, Ani. Jika ia tak ada biasanya aku yang mencuci piring tapi kadang2 ibuku. Jejak Langkah baru saja aku mulai kemarin dan sampai hari ini aku telah menghabiskan 150an halaman. Sementara Anak Semua Bangsa telah aku khatamkan hari sebelumnya. Aku memulai membacanya ketika pertama kali sampai ke rumah. Di kapal aku telah mengkhatamkan Manusia Seutuhnya karya Murtadha Muthahhari. Di bis ketika perjalanan dari Semarang Surabaya, aku mengkhatamkan Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali. 

Rupanya aku akan kehabisan buku bacaan selama di rumah nanti. Buku yang sedang aku baca selain Jejak Langkah adalah buku kuliahku tentang Kaidah-kaidah Fikih. Yang antri masih ada dua lagi yakni Arus Balik, Rumah Kaca dan buku yang baru kemarin aku pinjam kepada temanku, Isra, The Wisdom Of Confisius, buku tentang kebijaksanaan filosof kebanggaan China berabad-abad lalu yang sangat luar biasa. Seorang nabi—kalau tidak berlebihan– yang diutus untuk orang2 China berabad-abad lalu. 

Aku berharap banyak pada apa yang telah aku baca. Walaupun terkadang aku juga tak bisa menerangkan apa isi keseluruhan dari buku2 yang aku baca. Tapi aku masih meyakini bahwa bacaan2 ini akan berguna suatu saat nanti. Maka aku tak akan berhenti membaca. Terkadang memang serangan, ujian atau godaan untuk berhenti membaca sering sekali menyerangku, melumpuhkan pertahanan rapuh yang coba aku bangun beberapa tahun belakangan. Tapi itu wajar bagi pembaca pemula sepertiku. Jatuh dan bangun adalah suatu mekanika dan dinamika dalam menjalani hidup sebagai seorang pembaca amatir. 

Masih terlalu banyak faktor eksternal di luar sana yang membantuku untuk terus melawan rasa malas membaca. Orang2 jenius, pemikir, dan penulis2 hebat dengan wawasan yang sangat luas terlihat dari apa yang mereka tulis. Tanpa harus melihat dan mendengar seberapa banyak buku yang mereka khatamkan. Aku berkeyakinan para jenius itu tidak lahir dari berdiam diri; Minum kopi pada pagi lalu melamun. Malam hari begadang menonton gossip atau acara tv mewek-mewek “Katakan Putus”. Mereka terlahir tersebab pengorbanan yang lebih daripada yang lain. Berdarah-darah mereka melewati siang dan malam dengan ketekunan dan kerja keras. Mereka pasti menghabiskan hari2 dengan buku2 tebal yang menghiasi meja tempat kerja atau ruang tamu dan kamar2 tempat tidur mereka. 

****

Keseharian yang sebenarnya sedikit membosankan. Kau terbiasa hidup di lingkungan yang penuh dengan canda tawa setelah itu kau harus hidup dengan kondisi kebalikannya. Tapi bagaimana pun aku tak bisa mengkhianati tanah kelahiranku. Di sini aku lahir dan menghabiskan masa2 kecil dan remajaku. Aku bahagia di sini meski sedikit tak ada kegembiraan bersama teman2, ngakak bareng. Bukankah kebahagiaan tak bisa diukur oleh tawa? Buktinya ketenangan menyelimutiku ketika pertama kali sampai ke rumah ini. Rumah ayah dan ibuku. Kecemasan2 yang menyelimutiku dan menyiksaku setiap saat di Semarang mulai tergerus ketika di rumah. Kenyamanan inilah yang aku harap2 sejak lama, dan berharap akan terus seperti ini. Faktor lain adalah tersebab sambungan internet yang sulit. Pantaslah jika aku selalu saja menamakannya “Bertapa”. Setidaknya beberapa kekhawatiranku dan beberapa artikel yang aku baca bahwa internet mampu menimbulkan kegundah gulanaan pada diri orang. Maka aku bersyukur untuk beberapa bulan ini terlepas dari dunia yang banyak meninabobokan anak muda diperkotaan. Tak terkecuali aku. Selamat tinggal facebook, tempat menata diri, menampilkan diri yang bukan orisinal. Pencipta diri2 yang tidak sesungguhnya! Selamat tinggal BBM, walaupun sudah nyaris sebulan tidak menggunakannya. Selamat tinggal WA. Sampai jumpa beberapa minggu atau bulan depan ketika kebutuhan untuk kepentingan kuliah sudah mendesak!

****

Cengkeh tak berbuah nak!

Tak akan ada kerja keras seperti tahun lalu. Pagi sudah bergelantungan seperti kelelawar di ujung pohon cengkeh. Turun dari pohon ketika sore menyapa. Setelah pekerjaanku selesai. Aku harus mengangkut hasil panen setiap pagi, hasil panen kemaren. Sore harinya aku harus mengantarkan makanan dan rempah2 untuk persiapan buruh yang tidur di kebun. 

Tahun ini aktivitas itu tak akan terulang! Hanya buku2 yang akan menemani liburanku di rumah tahun ini. Dan jelas aku membutuhkan buku bacaan baru untuk beberapa bulan ke depan.
Sahu, 28 Juni 2017 

Bertapa 2

Kabut menyelimuti kampung sesunyi ini. Hujan rintik2 sedari tadi tak juga menandakan akan berhenti. Suara2 nyaring burung saling bersiulan membunyikan musik alam menyertai bunyi jatuhnya rintik hujan ke tanah. Simfoni! Ah desa ini memang sunyi. Geliat perekonomian yang mandek. Apalagi hujan tak pernah mau sedikit berkompromi dua hari ini. Petang telah menyemburat dan semakin gelap karena langit yang redup oleh kabut tebal. Burung2 kecil di langit jauh sana menari menikmati kebebasannya. Mereka sedang merayakan turunnya hujan rahmat dari Tuhan. Sementara manusia2 berselimutan di rumah karena dingin.

****

Kemaren, Aku bersandar di pelabuhan setelah dua hari dalam perjalanan. Diombang ambingkan oleh gelombang lautan. Serta semilir angin hujan yang menusuk tulang. Inilah daerahku. Setidaknya tiga tahun berturut. Kepulanganku selalu saja disertai hujan. Sepertinya pemanasan global telah merubah musim di daerahku. Musim yang sudah tidak memiliki garis jelas antara musim panas atau hujan. Aku kira ini juga bukan musim pancaroba, musim peralihan dari musim panas ke musim hujan atau sebaliknya. Inilah kampungku, desa kecil di Maluku Utara yang telah membesarkan aku dengan segala kekurangan dan kelebihannya. 

Aku tak pernah membayangkan jika aku terlahir di selain desa ini. Ia telah mengajarkan banyak hal dalam hidup tentang keaslian cara hidup. Bertahun-tahun kami hidup dalam kegelapan namun tak menyurutkan semangat kami sebagai manusia. Dunia anak2 kami adalah dunia lampu pelita dan rembulan. Lapangan kami adalah bibir pantai yang begitu luasnya sebelum dihabisi oleh gelombang menyisakan jalan raya di depan pantai. Permainan kami dahulu bukan mobil2lan plastik buatan pabrik. Permaianan kami adalah permainan tradisional yang hari ini sebagian besar nyaris telah ditinggalkan banyak anak2 generasi ini. 

Semalam adalah malam lailatur qadar. Di desa kami biasa disebut Malam Kajiri. Malam yang diperingati dengan menyalakan lampu lilin sehabis magrib dan dipasang di depan rumah masing2. Semalam ibukulah yang memasang dua buah lilin di depan rumah samping kiri kanan pintu pagar kayu. Aku juga masih teringat akan lagu yang kami nyanyikan menjelang malam Kajiri ini.

Malam Qadar malam pasang lampu. Malaikat turun membawa rahmat”



Aku tak pernah tau darimana dan siapa pencipta lirik ini. Hanya sepenggal itulah nyanyian itu. Tak ada sambungannya. 
****

Aku baru saja pulang dari magriban bersama kemenakanku, Randy. Aku menyaksikan betapa sepinya jalan2 di desa kami. Tak ada kemeriahan sebagaimana zaman aku masih anak2 dahulu. Dulu, malam Kajiri adalah malam paling menggembirakan bagi anak2 seusiaku kala itu. Jalan2 yg sunyi ini dahulu penuh kemeriahan. Bermain lilin, petasan atau bermain “bue-bue” menggunakan sarung yang sisinya dikaitkan ke pagar kayu dan sisi lainnya dinaiki dengan tujuan bersenang-senang. 

Beda dahulu beda sekarang kawan! Tapi pembangunan nyaris tidak ada yang berubah! Tadi subuh ngobrol sama pak Isra, teman kakakku yang sedang dalam pencarian cintanya sejak aku berjumpa setahun lalu hingga bertemu lagi tahun ini belum juga berjumpa pujaan hati. Bahkan adiknya sendiri sudah berencana menikah. Ia kalah start!. Haha. Kami bercerita banyak hal dan aku mengomentari pembangunan di desaku ini dengan melontarkan joke, “Pembangunan di desa kita ini sejak nenek moyang sampai kita menjadi nenek moyang tidak ada yang berubah” sambil ketawa terbahak-bahak. 

Bayangkan saja kawan! Pembangunan di daerah kami ini stagnan. Masjid yang sudah puluhan tahun ini tak pernah berubah bentuknya kecuali shaf yang lebih miring beberapa derajat karena menyesuaikan kiblat yang telah diperbarui akurasinya.  Tak ada yg berubah kecuali wadah tempat air wudhu yang sedikit diperlebar dan dipasang beberapa kran yang hari ini banyak yang sudah rusak. 

Ketika baru turun dari pelabuhan empat hari yg lalu, aku ke desa dari dermaga menggunakan ojek mobil open cup dengan membayar 10rb saja. Aku menyaksikan jalan2 raya penghubung antara pelabuhan dan desaku nyaris lebih parah rusaknya daripada tahun lalu. Inilah jalan2 di daerahku. Berbatu, berlobang sana sini, becek dan licin ketika hujan dan tentu saja tidak ada aspal. Jalan raya kami mundur beberpa puluh tahun kawan. Mengapa?! Sebab di masa ibuku dan nenekku masih muda, jalan2 yang aku lalui itu dahulu mulus seperti jalan aspal walaupun belum diaspal. Dahulu jalan2 itu adalah jalan yg digunakan oleh perusahaan kayu. Dimana jalan harus mulus untuk mencegah terjadinya hal2 yang merugikan perusahaan. Baik benda maupun nyawa. 

Parahnya, kondisi di atas bukan hanya terjadi di desaku. Namun juga di seluruh desa2 di kabupaten Taliabu. Tahun lalu aku dan kawanku, Ronal melakukan perjalanan dari desaku ke desa Nggele, melewati Tikong, Padang, Natang Kuning, Ufung, Todoli, Tolong, Balohang, dan Lede. Sepanjang beberapa puluh kilometer itu, tak ada jalan yang sedikit mulus kecuali jalan yang sering digunakan oleh perusahaan. Jalan yang lebih parah adalah jalan ketika start dari desa Lede menuju Desa Nggele. Jalannya yang sangat licin, becek karena tanah liat membuat ban motor licin dan sulit untuk jalan. Beberapa sungai yang kami lalui juga tanpa jembatan yang cukup berbahaya untuk dilewati. Untungnya orang2 di daerahku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.

Mungkin, pembangunan jalan tak pernah masuk dalam pembahasan rapat anggota dewan di kursi kekuasaan sana. Jembatan yang dahulu sempat dicanangkan dan beberpa sudah jadi dan beberpa lagi setengah jadi dan kemudian ditinggalkan, dibiarkan. Beberapa jembatan itu masih bisa aku saksikan sisa2 pembangunannya di beberpa sungai yang kami lewati menuju desa Nggele. 

Butuh tenaga ekstra untuk sampai ke desa2 tersebut. Beberapa kali aku harus turun dan mendorong motor agar bisa melewati lumpur becek tanah liat yang dalam. Kesulitan lainnya adalah melewati sungai lebar dan deras ketika hujan. Betapa masyarakat membutuhkan jembatan tuan-tuan! Jika jalanan mulus waktu tempuh untuk sampai di beberapa desa itu tidak membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun karena rusaknya jalanan, kami harus menempuhnya dengan waktu yang sangat lama. Aku tak pernah menghitung berapa jam untuk sampai. Tapi yang jelas sangat lama. 

Desa ini penuh kenangan. Persis belasan tahun yang lalu. Keceriaan yang murni dan polos masih tergambar jelas di wajah2 kami. Beda dulu beda sekarang. Sekarang aku tak seceria dulu. Senyumku yang dulu murni hampir2 hilang. Yang ada adalah senyum yang sedikit berat dan sedikit campur kepalsuan. Aku tak pernah sanggup lagi tertawa lepas sebanyak dahulu. Mungkin karena pikiran atau stres yang akhir2 ini aku rasai. 
Sahu, 23 Juni 2017 16.44

Bertapa 1

Petang itu matahari telah menguning, menandakan sebentar lagi gelap tiba. Sambil refleksi di teras depan rumah kakakku yang baru sebagian rampung itu, aku menemani sang matahari terbenam di balik bukit pulau buton. Pantai sedikitnmulai redup, gelap. burung2 melintasi langit buton. Kapal2 di teluk sudah menyalakan lampu lampu penerangan sebagai pertanda kegelapan tiba. 

Ini adalah petang pertama yang aku nikmati di pinggiran kota bau2 yang berbukit, setelah semalam aku baru saja sampai dalam perjalanan dari Surabaya dan Makassar lewat kapal KM. Nggapulu, salah satu kapal penumpang milik PT. Pelni. menyaksikan perahu dan kapal2 dari rumah sungguh adalah pemandangan yang menyenangkan, penyedap pandangan kala sore maupun pagi sekaligus menenangkan jiwa. Kebiasaan yang sama seperti tahun lalu. 

Rumah kakak saya ini terletak di perumahan betoambari, beberapa kilometer dari pusat kota. Letaknya agak diperbukitan namun dekat dengan pantai membuat suasana lebih syahdu memandang ke arah pantai. Di pagi hari disuguhkan oleh pemandangan lautan teduh nan syahdu dan petang hari disuguhkan oleh matahari yang mulai tenggelam di balik pulau2 diseberang sana. 

Besok. Besok Senin, 19 Juni itu bertepatan dengan jadwal kapal KM. Eva Maria yang akan menuju Taliabu, daerah kelahiranku. Kapal ini adalah kapal pengganti KM. Fungka Permata 9 yang tahun lalu masih beroperasi. Entah kenapa Fungka sang kapal fenomenal itu tak lagi beroperasi terutama ke daerah kampungku. Dengar2, pihak kapal mengalami kerugian sehingga harus pindah rute. Bentuknya hampir sama dengan Fungka namun tidak lebih lebar dan lambat sekali kecepatan kapal ini. Kapal ini akan berangkat sesuai jadwal dan akan sampai di pelabuhan kampung pada rabu siang. Jadi sekitar dua hari lebih setengah hari perjalanan dari Baubau sampai Taliabu. Whats amazing journey? Setelah sebelumnya dari Surabaya-Makassar-Baubau yang menempuh waktu relatif sama. 

Pagi2 sekali aku menunggui loket penjualan tiket yang masih tutup hingga hampir satu jam. Bisa jadi aku adalah pembeli tiket pertama. Mungkin karena trauma sebab tahun lalu harus menunggu dua minggu berturut tidak bisa pulkam disebabkan ketinggalan kapal dan kehabisan tiket di minggu keduanya. Hari ini, aku tak bisa mengulang sejarah menyedihkan itu. 

Sejak pagi sekali barang2 yang akan dikirim ke Sahu sudah aku belanjakan ke pasar bersama kakak perempuanku, Mila. Ia adalah kakak terbaik yang pernah aku miliki. Setidaknya selama ini ia yang banyak membantu kebutuhan selama bersekolah di Baubau dan membantu kebutuhan hidup ku ketika kuliah. Setahuku selama ini aku belum pernah menyaksikan kemurkaannya atau kemarahan yang menggebu darinya. Bahkan ketika aku dan kakakku, Ifin melakukan kesalahan yang sedikit fatal. Kemarahannya tak ubahnya hanya sekadar nasehat. 

Di atas ranjang nomer 93, terletak di lt. 2 inilah aku sekarang sedang menulis. Sesekali membaca buku Manusia Seutuhnya karya filosof muslim, Murtadha Muthahhari juga pdf Pernikahan Yang Hidup karya Pak Mukhammad Arif.  Berbantalkan tas pakaianku dan dibelakangnya tiga kardus yang berisi kiriman minyak goreng, bawang, merica, Kol dan 4 buah buku bajakan Tetralogi buru dan Arus balik milik pram yang sudah aku packing begitu rapinya sejak di Semarang. 

Aku menyebutnya dalam status twitterku ritual pulkam ini sebagai “Bertapa”. Tentu bukan tanpa alasan. Kehidupan yang masih jauh dari yang disaksikan di abad modern ini. Tak ada listrik, kampungku hanya mengandalkan lampu pelita dan rembulan. Akhir2 ini sebagian besar warga menggunakan panel surya untuk penerangan di malam hari. PLN yang dijanjikan gratis itu hanyalah omongan tahi kucing belaka. Trik politik busuk pemerintah sebelum terpilih. Setelah tiang2 listrik berdiri, kabel-kabel telah terpasang rapi, dan selama beberapa minggu hidup dalam kebahagiaan karena kampung telah terang benderang di malam hari berkat lampu PLN. Tiba2 saja semuanya tersendat dan mati sampai sekarang. Padahal rumah2 telah dipasang instalasi listrik. Membayar jutaan rupiah. Entahlah, apakah pemerintahnya tak sanggup membiayai atau memang trik pemerintahan yang hanya meninabobokan alias menyenangkan hati para pendukung partisipan calon yang telah terpilih, sekedar saja! Setelah itu habis manis!  Soal politik memang bisa saja memanipulasi berbagai hal untuk menarik masa. Berkorban beberapa ratus untuk mendapatkan beberapa juta plus jabatan mentereng.  Kampungku yang masyaallah kondisi perpolitikan yang sama sekali tak terdidik. Politik saling makan! 

Tadi siang di lt.1 aku ngobrol sama mahasiswa Makasar teman sekampung sekaligus adik kelas, tentang berbagai masalah keislaman baik secara umum maupun kondisi keislaman di kampungku sendiri. Tak terlepas juga pembahasan penting soal politik tahi kucing yang mengoyak kebersamaan di kampungku. 

Dari diskusi yang lumayan menggunakan suara keras karena temanku ini ranjangnya dekat kamar mesin itu, banyak hal yang kami diskusikan lalu kami bertukar pikiran dan jawaban. Sejak bertemu di kapal Nggapulu dari Makassar, aku lebih suka mendatangi tempatnya dan banyak ngobrol sama temanku itu. Saat dari Surabaya di KM. Nggapulu aku tak punya teman ngobrol di kapal. Namun setelah bertemu di pelabuhan Makasaar, aku banyak mengunjungi temanku ini yang ia berada di dek 7 non seat sementara aku di dek 2 seat dengan nomor ranjang sekian. Akhir-akhir ini aku sangat membutuhkan teman ngobrol dalam rangka mengalihkan pikiran2 aneh yang bersileweran beberpa bulan ini menyerang pikiran sehatku hingga menderita depresi, paranoid dan kecemasan. Memiliki teman diakusi atau hanya sekedar ngobrol saja aku rasa mampu mengusir kecemasan dan menjadikan pikiranku lebih rileks. 

Hal yang sama ketika di kapal KM. Eva Maria ini. Beruntungnya di deretan ranjang tempat tidur kelas ekonomi ini, semua adalah adik2 sekampung dan 2 orang kakak kelas yang tidak akan membuat perjalanan dua hari ini sedikit membosankan. 

Saat ini pukul 00.00 tepat, disertai hujan deras dan gelombang yang sedikit kencang di perairan antara Baubau-Kepulauan Banggai. Akibat kecemasan yang belum sembuh total, ketika gelombang membuat oleng kapal, perasaan ku sedikit khawatir. Padahal tahun2 sebelumnya kekhawatiran2 spt ini jarang sekali muncul. Ini tidak separah beberapa tahun belakangan. Tahun2 ketika kapal yang aku tumpangi adalah kapal kayu, KM. Fungka Permata 2, generasi awal Fungka. Kemudian disusul Fungka tiga, empat, lima, tujuh, hingga akhirnya kapal fungka 9 dengan struktur besi murni muncul. Dulu, kapal2 kayu inilah yang harusnya sangat mengkhawatirkan. Bayangkan saja, kapal kayu, kecil dan harus mengarungi lautan lepas. Aku sempat beberpa kali merasakan hempasan gelombang pada lambung kapal juga oleng kapal yang aku kira kadang2 akan langsung terbalik. Histeris wanita dan ibu2 ketika kapal oleng di lautan lepas nan gelap. Beberapa yang muntah akibat mabuk laut serta bau pengap kopral kapal di dek 1. Dulu, ini adalah hal yang tidak sampai membuat aku khawatir hingga pikiran macam2 muncul dalam benakku. 

Zaman selalu berubah dan dinamis. Akan ada suatu ketika kapal2 sebesar Nggapulu, Dorolonda, Leuser, Tilongkabila yang akan bersandar di pelabuhan2 di Taliabu. Entah di zaman dan generasi siapa. Mungkin setalah aku tua renta atau bahkan setelah anak cucu dan cicitku sudah menempuh studi kuliah ke luar daerah dan melakukan perjuangan seperti halnya aku masih muda dulu namun dengan perkembangan tekhnologi pesat yang lebih memudahkan. Mungkin pada masa itu listrik sudah 24 jam dan internet telah lancar di daerahku. Jalan2 penghubung antara desa kecamatan dan kabupaten telah teraspal dengan rapi juga lampu jalannya yang terang. Tidak menakutka pn layaknya di masaku.

Kelak masa yang lebih mudah akan hadir pasca generasiku yang masih berteman gelapnya malam dengan lampu pelita, lampu tradisional yang dirancang dari botol Hemaviton yang diberi sumbu dan berisi minyak tanah atau minyak kelapa. Kelak jalan2 yang hari ini aku lewati masih bebatuan yang karena saking parahnya membuat ulu hati sakit akibat goncangan jalan yang  berbatuan. Kelak internet akan lancar tidak sebagaimana generasiku hidup seperti di hutan belantara, terisolasi dari dunia sekitar. Kelak setelah generasiku daerah ini akan lebih ramai.

Yang terpenting, semoga kelak politik yang cerdas telah berjalan lancar dan para pemangku jabatan keagamaan di kampung lebih friendly dan mau menerima masukan mahasiswa dalam perbaikan kualitas bacaan atau kegiatan2 keislaman. Amiin
(Di tengah laut antara Baubau-Kepulauan Banggai) Selasa, 20 juni 2017. 

HOAX DAN MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA

Hoax dan Masa Depan Indonesia

Indonesia menempati urutan nomor empat sebagai pengguna internet terbesar di dunia sebanyak 78 juta/30,5 %  orang pengguna di bawah Cina (676 juta/49,5 %), India (375 juta/30 %), dan Jepang (115 juta/90,6 %). (Sumber: KataData-K12 via PintarPolitik.com). Angka tersebut adalah angka yang sangat fantastis. Dari jumlah pengguna Internet tersebut, jumlah pengguna terbesar berdasarkan usia dipegang oleh kawula muda dengan rentang usia 20-24 tahun dan 25-29 tahun dengan penetrasi hingga lebih dari 80 persen, relatif lebih tinggi dari kelompok usia lainnya yang hanya 20 persen. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa generasi dengan usia 20-an adalah benar-benar generasi Z, yaitu sebuah generasi yang dilingkup hidupnya tidak terlepas dari tekhnologi informasi yang sangat mudah dan cepat diakses. Continue reading “HOAX DAN MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA”

Islam manusia sebagai agama kemakluman

Saya setahun lebih bersama HTI, aktif mengikuti kajian halaqah kitab mu’tabaroh dan kemudian mengundurkan diri dengan beberapa alasan. Bukan berarti saya anti dengan HTI dan pemikiran-pemikiran yang diembannya.

Saya lebih cocok dengan NU dengan beberapa alasan. NU bagi saya adalah wasilah yang saat ini lebih pas bagi saya yang sangat faqir ilmu fardhu ain. Continue reading “Islam manusia sebagai agama kemakluman”